Kisah Inspiratif Wong Ndeso Yang Menjadi Pengusaha Sukses (Abdul Rahman Tukiman)

on Rabu, 20 November 2013

Bocah gunung yang satu ini masa kecilnya dijalani dengan kemiskinan. Beruntung, dari usaha berdagang bakso malang ia kini mejadi pengusaha sukses. Masa kecilnya dilalui di suatu dusun kecil yaitu desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa timur. Bapak Abdul Rahman Tukiman dilahirkan pada tanggal 4 April 1961 dari pasangan Bapak Saimun dan Ibu Paijem ini, masa kecil bisa dibilang dilalui dengan cukup berat karena penuh dengan penderitaan. Namun kegetiran tersebut tidak lantas terus diratapi olah Cak Man begitu sapaan akrab Abdul Rahman Tukiman. Justru menjadi cambuk. Seiring usianya beranjak ramaja, berbekal tekad yang kuat anak ke 5 dari 8 bersaudara ini kemudian terlecut hatinya untuk keluar dari kemiskinan dengan meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota. Tiba-tiba ada seorang pengusaha Bakso bernama Bapak Sumaji tengah mencari pemuda desa untuk diajak bekerja di Malang. Mendengar itu Cak Man tanpa pikir panjang pekerjaannya lantas menyambut tawaran tersebut. Meski terasa berat meninggalkan Ibu dan keluarganya, langkah Cak Man tetap mantap untuk bekerja di Kota. Pertama menginjakkan kaki di Malang, semua pekerjaan dilakoninya. Mulai dari membantu memasak bakso, mencuci peralatan masak sampai menyiapkan bakso di rombong/gerobak-bakso yang akan dibawa juragannya berjualan keliling.Lama-lama pekerjaan itu membosankannya, akhirnya ia pun berniat untuk ikut jualan Bakso keliling juga. "Pertama kali jualan tahun 1980 ketika masih berusia 19 tahun senang banget rasanya," kisahnya. Tidak diduga, hasil jualan baksonya ternyata laris manis. Alhasil, sejak saat itu berjualan bakso. Setelah melewati masa-masa susah dan senang berjualan bakso ditambah pengalaman ikut bersama 3 juragan, terpikir dalam hati Cak Man untuk berjualan sendiri. Karena setelah dihitung-hitung ternyata berjualan sendiri bakso sangat menguntungkan. Waktu itu Cak Man tidak memiliki uang sama sekali untuk modal usaha. Baru pada 1984, bermodalkan hasil tabungannya selama 2 tahun sebesar Rp 77 ribu, Cak Man memberanikan diri membuka warung bakso. "Mulailah tahun itu saya berjualan bakso sendiri," ujarnya. Prinsipnya pada waktu itu sederhana, "Seperti orang belajar silat," katanya. Berbekal pengalaman bekerja pada 3 juragan bakso yang masing-masing memiliki jurus andalan, tentunya ia juga bisa uga memiliki jurus ampuh yang merupakan penggabungan dari ketiga jurus andalan 3 pendekar tersebut. "Dengan mengkombinasikan kelebihan dari 3 juragan tersebut, saya yakin bahwa bakso buatannya menjadi jauh lebih unggul dan digemari masyarakat," imbuhnya lagi. Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak-menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan malah menyurutkan hati Cak Man untuk berhenti berjualan tetapi makin menambah semangatnya untuk bagaimana membuat baksonya enak dimata pelanggan. Kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil. Warung baksonya setiap hari dibanjiri pelanggan. Cabang-cabang lain pun kemudian didirikannya. Kesuksesan lambat laun diraihnya Cak Man. Sampai akhirnya ia memfranchisekan usahanya dan pada Februari 2007 mendirikan PT Kota Jaya, untuk mengurusi manajemen usaha baksonya agar lebih modern. Hebatnya lagi, kini setelah 23 tahun usaha baksonya berjalan, ia telah memiliki 57 buah gerai dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap gerai mempekerjakan 16 karyawan (di luar pemilik gerai), maka dengan 60 gerai yang ada saat ini, wong ndeso Cak Man mampu menampung jumlah tenaga kerja sebanyak : 57 x 16 = 960 orang. Tidak hanya itu, kemana-mana ia kini sudah tidak lagi jalan kaki atau naik sepeda onthel. Ia sudah bisa naik mobil mewah lengkap dengan driver yang selalu siap mengantar kemana ia pergi. Rumahnya pun sangat besar terdiri dari dua lantai seluas 1000 m2. Meski semua telah diraih, Cak Man tak lantas lupa dengan asal muasalnya yang wong ndeso dan katro. Ia masih rendah hati dan santun terhadap siapapun. 

Disamping itu, ia juga berhasil membuka gerai baru di Jl. Ciliwung, Jl. Mayjen Wiyono dan di beberapa tempat lain di kotamadya Malang. Dari sinilah akhirnya mendudukkan Cak Man dengan Bakso Kotanya sebagai pedagang bakso-malang papan atas yang memiliki gerai terbanyak. Tidak hanya itu, Cak Man kemudian juga mampu membeli rumah di Jl. Kedawung II/11. Rumah baru tersebut disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat memasak dan penampungan para karyawannya. 
Meski berasal dari desa di lereng gunung, Cak Man memiliki visi kedepan yang sangat kuat. Cak Man berkeyakinan bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan untuk menggapainya perlu usaha yang sungguh-sungguh dibarengi dengan kemauan belajar kepada siapapun. 
"Kunci saya membangun usaha hingga sebesar adalah senantiasa meningkatkan mutu dan layanan, membuat inovasi baru (semula hanya 6 varian saat ini sudah 22 varian), sering mengikuti kegiatan pelatihan, mematenkan merek dagang dan menerapkan manajemen modern," ujarnya. 
Lebih dari itu yang tak kalah penting dan selalu dipegang teguh Cak Man adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. "Dahulu kalau hanya berjualan bakso tradisional, saya tidak perlu melakukan macam-macam. Sekarang, tidak bisa diam begitu saja. 
Sekarang, Bakso Kota Cak Man sudah memposisikan diri sebagai salah satu resto cepat saji asli Indonesia yang berjuang untuk dapat bersaing dengan resto cepat saji mancanegara seperti KFC, McDonald, Hoka-hoka Bento dan lain sebagainya. Jadi, saya harus berbenah diri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan



Sumber forum UCEO

Kisah inspiratif Rangga Umara : Pengusaha Pecel Lele Lela

on Senin, 18 November 2013

Kisah hidup berliku dari seorang pejuang kehidupan dengan tekad bulat dan keyakinan pada akhirnya berbuah manis. Jerih payah, jatuh-bangun membangun bisnis pada akhirnya dirasakan oleh Rangga Umara (31), pemilik RM Pecel Lele Lela. 
Sebelum banting setir memilih jalan pengusaha, Rangga adalah karyawan dengan posisi manajer di perusahaan swasta. Mengetahui perusahaan tempat kerjanya tidak sehat dan tinggal menunggu giliran PHK, setelah teman-temannya terkena PHK, Rangga mulai memikirkan jalan hidup lain. Pengalaman itu membuat Rangga tidak mau lagi menjadi karyawan. 
Pada akhirnya, Rangga mulai merintis bisnis sendiri. Diawali dengan tidak ada ide, bisa dikatakan dengan modal nekat dan niat, Rangga membuka warung seafood kaki lima dengan diferensiasi tempat dibuat unik. Modal pertama hanya tiga juta, itu pun dari hasil menjual barang-barang pribadinya. Sampai tiga bulan pertama, warung seafood-nya masih sepi pengunjung. 
Merasa bahwa lokasi yang menjadi kendala utama, Rangga pun mulai mencari tempat lain. Rangga menawarkan kerja sama dengan warung makan lainnya, tetapi selalu ditolak. Sampai suatu hari Rangga mendatangi sebuah rumah makan semipermanen di kawasan tempat makan, di kawasan Pondok Kelapa. Pemilik rumah makan itu juga menolak tawaran kerja sama yang diajukan Rangga. Ia justru menawari membeli peralatan rumah makannya yang hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Karena keterbatasan modal, Rangga menolak membeli peralatan rumah makan tersebut. Ia hanya menyewa tempat seharga Rp1 juta per bulan. 
Di tempat usaha yang baru, Rangga memutuskan untuk berjualan pecel lele, makanan favorit saat kuliah. Lagi-lagi nasib baik belum menghampirinya. Ketika berjualan lele, yang laku malahan ayam. Kalau menu ayam habis, pembeli langsung memilih pulang. Rangga berkeyakinan bahwa menu masakan lele itu enak. Untuk mengujinya, ia menawari pembeli untuk mencicipi menu lele dan keyakinannya itu diperkuat oleh pendapat pengunjung. 
Naluri wirausaha Rangga pada momen itu sangat kuat. Dia mampu melihat peluang yang tidak titangkap orang lain. Lele yang biasanya di rumah makan hanya menjadi menu tambahan, oleh Rangga disajikan sebagai menu utama. Bagaimana membuat hal yang tidak biasa menjadi biasa di mana lele menjadi sajian utama dapat diterima oleh konsumen? Di tahap ini, naluri inovasi Rangga menunjukan kebolehannya. Inovasi hidangan lele untuk menonjolkan kelebihan lele sebagai menu makanan yang terletak pada kelembutan dagingnya dan memperbaiki bentuk lele sebagai makanan yang tidak menarik dengan dibaluri tepung dan telur. Jadilah lele tepung yang lambat laun disukai konsumen. 
Setelah pindah ke tempat baru, pendapatan rumah makan rangga meningkat menjadi Rp3 juta per bulan. Membandingkan dengan gaji sebagai karyawan yang tidak jauh berbeda dengan pendapatan rumah makannya, Rangga berniat untuk lebih total menekuni bisnisnya. 
Usaha warung makan lele Rangga yang masih baru dan mulai direspon baik oleh konsumen, tidak terlepas dari kendala. Lokasi yang pada awalnya menjadi kendala, sudah teratasi, selanjutnya muncul tantangan baru. Tahu usaha rumah makan lele Rangga laris, pemilik rumah makan menaikan sewanya menjadi Rp2 juta per bulan. Belum lagi Rangga harus memikirkan gaji tiga karyawan yang menggantungkan nasibnya kepada dirinya. 
Sementara pendapatan menjadi minus karena kenaikan biaya sewa dan gaji karyawan, Rangga terjebak oleh rentenir dengan berutang sebesar Rp5 juta. Usaha Rangga sempat mengalami jatuh-bangun. Dari pengalaman itu, mental wirausahawan Rangga terbangun. Seiring berjalannya waktu, Rangga mulai bijak menghadapi tekanan dan tantangan. Usahanya pun berbuah manis. 
Berkat kegigihan dan perjuangan pantang menyerahnya, usaha kuliner rumah makan dengan sajian menu utama lele mulai diminati banyak konsumen. Kenaikan peminat lele menjadikan usahanya diminati orang. Banyak orang menawarkan kerja sama dengan model waralaba. 
Berkat lele goreng tepung andalan, rumah makan Rangga semakin ramai pengunjung. Pecinta lele dari berbagai kawasan datang ke rumah makannya di Pondok Kelapa. Selanjutnya, Rangga membuat putusan besar dengan pindah tempat dari tempat rumah makan sebelumnya yang disewa Rp2 juta per bulan. Tidak hanya itu, inovasi masakan lele terus berlanjut dengan sajian tiga menu utama, yaitu lele goreng tepung, lele filet kremes, dan lele saus padang. 
Ketika usaha warung makan sedang menanjak, Rangga dihadapkan pada masalah baru lagi, yaitu koki utamanya keluar dan diketahui dia membuat usaha sejenis. Rangga kecewa, mengapa tidak berbicara sebelumnya karena kalau tahu tentunya dapat dikerjasamakan dan saling mendukung. Masalah terselesaikan ketika tidak direncanakan Rangga bertemu teman lamanya saat SMA, Bambang. Bambang pada saat itu bekerja di restoran cepat saji. Keduanya kemudian bercerita, bertukar pikiran dan pengalaman mengenai makanan dan bisnis rumah makan. Lalu, Rangga menjadikan Bambang sebagai konsultannya kecil-kecilan dengan honor hanya mengganti uang besin. 
Ketika bisnis mulai menanjak, Rangga membangun fondasi usahanya, meletakkan pijakan dasar berupa budaya kerja dengan membuat SPO dengan dibantu oleh Bambang. Pada tahap pengembangan ini, peranan Bambang sangat besar membantu Rangga. SPO menjadi dasar pembukaan cabang lainnya untuk mengontrol kualitas makanan agar rasanya tidak berubah-ubah dan pelayanannya pun mempunyai diferensiasi trersendiri. Pada akhirnya Bambang menjadi general manager Pecel Lele Lela. 
Pada 2009, menanggapi banyaknya permintaan, Rangga mulai mewaralabakan Pecel Lele Lela. Waralaba Pecel Lele Lela berdampak positif untuk pengembangan usaha. Pecel Lele Lela lebih dikenal oleh masyarakat dan selanjutnya permintaan konsumen pun meningkat. Waralaba lele Lela diminati banyak orang, bahkan sampai ke luar daerah, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Medan. 
Lele Lela berhasil menjaga kualitas rasa dan layanan yang menjadi kunci sukses bisnis kuliner. Tidak hanya itu, untuk menjaga bisnis tetap dalam fase pertumbuhan, Lele Lela terus berinovasi dengan rasa, mengembangkan berbagai menu hidangan lele yang khas dan berbeda. Inovasi di sisi layanan Lele Lela mengembangkan budaya sambutan ucapan "Selamat Pagi" kepada setiap konsumen yang datang meskipun waktunya siang, sore, dan malam. Rangga menunjukkan bahwasanya seorang wirausahawan haruslah kreatif dan inovatis mengembangkan nilai-nilai baru untuk meningkatkan nilai produknya. 
Sekarang ini Lele Lela mendapatkan permintaan waralaba dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jeddah, Penang, Kuala Lumpur, dan Singapura. Rencananya, cabang-cabang di luar negeri akan direalisasikan tahun ini. Sampai saat ini Lele Lela telah memiliki 27 cabang, 3 di antaranya adalah milik sendiri. 
Nama Lela sendiri sebenarnya hanyalah singkatan, yaitu Lebih Laku. Ini sekaligus menjadi doa supaya Lele Lela terus berkembang. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Rangga ketika Pecel Lele Lela ikut mengisi menu acara buka bersama yang diadakan Presiden SBY di Istana Negara, dihadiri para menteri dan duta dari negara sahabat. 
Selain itu, tahun lalu Rangga selaku pendiri dan pemilik Lele Lela juga menerima penghargaan dari Menteri Perikanan dan Kelautan karena usahanya dinilai paling inovatif dalam mengenalkan dan mengangkat citra lele dengan menciptakan makanan kreatif sekaligus mendorong peningkatan konsumsi ikan. Penghargaan lain yang juga diraihnya adalah Indonesian Small and Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2010 dari Menteri Usaha Kecil dan Menengah. Dua penghargaan ini makin memotivasi Rangga untuk lebih giat bekerja menjadikan lele sebagai menu modern. 
Kesuksesan yang dicapai Rangga bukan semata-mata hanya kematangan konsep dan kematangan menu, tetapi juga totalitas dan komitmen karyawan sebagai bagian aktor yang ikut membesarkan Lele Lela. 
Kini omset seluruh cabang mencapai Rp1,8 miliar per bulan. Sampai kini, Rangga masih memegang keyakinan bahwa jika kita mau fokus dalam melangkah, pasti akan sukses.

Sumber Forum UCEO

Kisah inspiratif Entrepeneur muda Hamzah Izzulhaq


Entrepreneur berusia 18 tahun ini tidak ingat secara pasti kapan pertama kali dirinya mulai berdagang. Namun satu hal yang pasti adalah bibit-bibit kemandiriannya telah terbentuk sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran, menjadi tukang parkir serta ojek payung, Hamzah Izzulhaq, demikian nama entrepreneur muda ini memoles jiwa entrepreneurship-nya. Bertujuan menambah uang saku, ia melakoni semua itu di sela-sela waktu luang saat kelas 5 SD.

Hamzah, begitu dia sering disapa, terlahir dari keluarga menengah sederhana. Sang ayah berprofesi sebagai dosen sementara ibunda adalah guru SMP. Secara ekonomi, Hamzah tak kekurangan. Ia senantiasa menerima uang saku dari orangtuanya. Namun terdorong oleh rasa inginMandiri dan memiliki uang saku yang lebih banyak, Hamzah rela menghabiskan waktu senggangnya untuk mencari penghasilan bersama dengan teman-temannya yang secara ekonomi masuk dalam kategori kurang mampu.

Hamzah mulai menekuni bisnisnya secara serius ketika beranjak remaja dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia berjualan pulsa dan buku sekolah setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 ini melobi sang paman yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi distributor dengan diskon sebesar 30% per buku. "Buku itu lalu saya jual ke teman-teman dan kakak kelas. Saya beri diskon untuk mereka 10%, sehingga saya mendapat 20% dari setiap buku yang berhasil terjual. Alhamdulillah, saya mengantongi nett profit pada saat itu mencapai Rp950 ribu/semester," 

Uang jerih payah dari hasil penjualan pulsa dan keuntungan buku kemudian ditabungnya. Sebagian dipakai untuk membuka konter pulsa dimana bagian operasional diserahkan kepada teman SMP-nya sementara Hamzah hanya menaruh modal saja. Sayangnya, bisnis itu tak berjalan lancar. Omzet yang didapat sering kali dipakai tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi. Dengan kerugian yang diteriman, Hamzah akhirnya memutuskan untuk menutup usaha yang hanya berjalan selama kurang lebih 3 bulan itu. "Sampai sekarang etalase untuk menjual pulsa masih tersimpan di gudang rumah," kenang Hamzah sambil tertawa.

Dengan menyimpan rasa kecewa, Hamzah berusaha bangkit. "Saya sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Terutama buku "Ciputra Way" dan "Quantum Leap". Sehingga itu yang membuat saya bangkit ketika rugi berbisnis," jelasnya. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah membeli alat mesin pin. Hal itu nekat dilakoninya karena ia melihat peluang usaha di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah acara seperti pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. Dari acara-acara di sekolah, ia menerima order yang cukup besar. Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan merugi lantaran tak menguasai teknik sehingga banyak produk orderan yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. "Ayah sedikit marah dengan kerugian yang saya buat itu," lanjut Hamzah.

Dari kerugian itu, Hamzah merenung dan membaca biografi pengusaha sukses untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Tak berapa lama, ia mulai berjualan snack di sekolah seperti roti, piza dan kue-kue. Profit yang terkumpul dari penjualan makanan ringan itu sebesar Rp5 juta. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. "Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang," terangnya.

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. "Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi," kenang Hamzah.

Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.

Sejak bulan Agustus lalu, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan SMA tahun 2011 ini duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan. "Saat ini saya sedang mencicil perlahan-lahan modal yang saya pinjam 2 tahun lalu dari ayah. Alhamdulillaah, saya sudah bisa ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri," ujarnya.

Menurut Hamzah, dari pengalamannya, berbisnis di usia muda memiliki sejumlah tantangan plus kendala seperti misalnya diremehkan, tidak dipercaya dan lain sebagainya. Hal itu dianggapnya wajar. "Maklum saja, sebab di Indonesia, entrepreneur muda dibawah 20 tahun masih amat langka. Kalau di Amerika usia seperti saya ini mungkin hal yang sangat biasa," tutupnya.

Kisah Sukses/Inspiratif Peternak Sapi dan Ayam

on Jumat, 01 November 2013

Berikut ini merupakan salah satu contoh Kisah Sukses/Inspiratif Peternak Sapi dan Ayam yang di share di grup Demi Indonesia disini >> https://www.facebook.com/groups/DemiIndonesiaJaya/permalink/404319389695853/

semoga bermanfaat untuk anda


Suparto: Sarjana Pulang Kampung
"Dokter hewan yang mengubah desanya dari miskin menjadi desa peternakan yang makmur."

----
Orang desa jadi sarjana tidak luar biasa. Tapi sarjana asal desa yang pulang kampung dan sukses membangun desanya bisa dibilang langka. Suparto, dokter hewan asal Lamongan, Jawa Timur, salah satunya. Dengan ilmu yang ia peroleh dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, ia mengubah desanya yang miskin menjadi desa peternakan yang makmur.

Seperti kebanyakan pemuda asal kampung, Suparto menyelesaikan pendidikannya dalam kondisi ekonomi sulit. Orangtuanya hanya buruh tani dan buruh ternak di Desa Gunungrejo, Kedungpring, Lamongan. Kebanyakan pemuda kampung seusianya hanya berijazah SD, paling tinggi SMA. Untuk membiayai pendidikannya di SMA, ia mencari uang sendiri dengan berjualan roti keliling.

Waktu kuliah, ia berjualan pakan ternak. Maka begitu lulus kuliah, ia bisa merasakan betapa gelar sarjana memang masih sangat mahal bagi kebanyakan orang seperti dirinya.

Menyandang predikat lulusan terbaik tingkat fakultas tahun 2000, ia sempat bekerja di perusahaan peternakan Charoen Pokphand Indonesia. Tapi ia membatasi diri bekerja sebagai pegawai hanya untuk mencari modal dan pengalaman nyata usaha peternakan. Setahun bekerja di sana, ia kemudian mengundurkan diri untuk kembali ke desanya. Keputusan ini berlawanan dengan kebanyakan kawan-kawannya yang lebih memilih bekerja sebagai pegawai perusahaan.

Dengan modal Rp 25 juta yang ia sisihkan dari gaji selama setahun, ia memulai usaha peternakan ayam petelur di desanya tahun 2001. Tak mudah memulai usaha ini. Bukan karena ia malu berkalang kotoran ternak, tapi karena ia harus menerima kenyataan dicemooh warga desa yang ia ingin bangun, "Jauh-jauh kuliah ke Surabaya dengan biaya jutaan rupiah kok malah pulang ke desa memelihara ayam." Keluarganya bahkan sempat malu dengan keputusannya keluar dari pekerjaannya untuk pulang ke desa. "Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk beternak ayam di desa," kata mereka.

Tapi ia bersikukuh dengan pendiriannya. Ejekan orang kampung itu ia anggap sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa pilihannya memang tidak salah. "Saya ingin membuktikan bahwa peternakan itu berbeda kalau dikelola oleh orang yang punya ilmunya," katanya. Dengan kerja keras, ia berhasil membuktikan itu. Dalam tempo satu tahun, ia sudah bisa menunjukkan bahwa usaha ternak ayam bisa menghasilkan banyak keuntungan.

Tahun 2002, warga desa mulai melirik usaha ini. Suparto lalu mengajari mereka cara beternak sekaligus menampung dan menjual produksi telur lewat sistem koperasi. Ia bertindak sebagai konsultan tanpa bayaran bagi para warga peternak yang kemudian ia beri nama Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur.

Yang lucu, mereka yang awalnya mencemooh usaha itu, akhirnya malah ikut bergabung karena memang usaha itu terbukti bisa memberikan penghasilan cukup banyak. Tahun 2008, jumlah populasi ayam petelur di kampungnya mencapai 150 ribu ekor dengan anggota kelompok sekitar 100-an orang.

Di tahun 2008 itu, ketika usaha ternak ayam makin maju, Suparto memperoleh informasi program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang diadakan oleh Ditjen Peternakan, Kementerian Pertanian. Dengan modal pengalaman sebagai peternak ayam yang berhasil, ia mengikuti seleksi SMD.

Setelah dinyatakan lolos, ia memperoleh hibah bersyarat dari Ditjen Peternakan sebesar Rp 363 juta untuk mengembangkan kelompok ternak sapi potong di desanya. Dengan modal awal 37 ekor sapi, ia mengajak para warga desa yang biasanya menjadi buruh ternak untuk bergabung dalam Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur II.

Dikenalkan pada teknologi

Sebelum adanya kelompok itu, kebanyakan warga desa biasanya menjadi buruh ternak dengan sistem "gado". Mereka memelihara beberapa ekor sapi milik juragan. Sebagai imbal baliknya, mereka mendapatkan bagi hasil sebesar 50% dari harga jual sapi. Dengan sistem baru di kelompok Gunungrejo Makmur II, mereka memperoleh bagi hasil lebih tinggi, yakni sebesar 70%.

Dalam sistem gado, mereka biasanya hanya memperoleh penghasilan rata-rata Rp 200.000/bulan. Tapi sejak bergabung dengan kelompok binaan itu, mereka bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 1 juta sebulan. Ini jelas peningkatan penghasilan yang signifikan bagi orang-orang kampung yang tak punya modal sama sekali. Apalagi mereka juga masih bisa melakukan pekerjaan lain selain beternak.

Lewat program SMD ini Suparto bertindak sebagai pembimbing, mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari cara memelihara sapi sampai menjualnya. Secara tradisional biasanya warga desa menjual sapi ke blantik (makelar). Cara penjualan seperti ini masih jamak kita temui di desa-desa. Lewat kelompok Gunungrejo Makmur II, mereka menjual sapi langsung ke Rumah Potong Hewan (RPH), tidak lagi lewat makelar. Karena rantai penjualan diperpendek, keuntungan mereka pun otomatis lebih besar.

Dulu mereka tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan limbah ternak seperti urine dan kotoran sapi. Setelah mengenal teknologi yang dibawa oleh Suparto, mereka kini bisa mengubah urine sapi menjadi pupuk cair serta memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber biogas dan kompos.

Sebelum mengenal teknologi peternakan, mereka membakar begitu saja jerami sisa panen padi. Kalaupun digunakan untuk pakan sapi, jerami itu biasanya hanya dikeringkan begitu saja lalu ditumpuk di kandang. Setelah diajari oleh Suparto, mereka bisa mengubah jerami itu menjadi silase, pakan sapi yang lebih bergizi dan tahan lama lewat proses fermentasi.

Para buruh tani ini sebelumnya bekerja sendiri-sendiri. Tiap orang memelihara beberapa ekor sapi di kandangnya masing-masing. Suparto kemudian mengenalkan sistem kandang kelompok pada mereka. Para peternak itu dibagi ke dalam tujuh kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 20 orang. Satu kelompok itu memiliki satu kandang bersama. Mereka secara bergiliran merawat ternak di kandang kelompok itu. Sistem piket ini membuat mereka bekerja lebih efisien. Selain mereka bisa berhemat waktu dan tenaga, ternak juga lebih mudah ditangani.

Setelah dua tahun program SMD berjalan, jumlah sapi mencapai 215 ekor dari modal semula yang hanya 37 ekor. Aset terakhir ini bernilai sekitar Rp 1,5 miliar. Sekarang hasil usaha ternak sapi ini bisa dinikmati oleh 140 orang anggota.

Sebagian besar warga yang dulu biasanya hanya menjadi buruh ternak, kini telah menjadi peternak mandiri. Bahkan, sebagian anggota kelompok tani ternak ini berasal dari desa-desa sekitar, tak hanya dari Desa Gunungrejo. Mereka telah membuktikan sendiri bahwa peternakan yang dikelola dengan sentuhan teknologi memang memberikan hasil lebih baik daripada cara lama yang mereka praktikkan selama ini.

Tantangan pertama: orang desa

Seperti lazimnya kebanyakan wirausahawan, Suparto menuturkan, banyak cerita tidak enak di belakang keberhasilannya. Itu sudah merupakan konsekuensi dari pilihannya menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Tahun 2003 misalnya, usahanya pernah rugi cukup banyak akibat kasus flu burung.

Namun, dari sekian banyak hambatan, kata Suparto, yang paling sulit dihadapi adalah pandangan kolot warga desa. Maklum, mereka sudah turun-temurun terbiasa beternak secara tradisional dan mereka menganggap cara itu baik-baik saja. Ketika Suparto hendak memperkenalkan sistem peternakan modern dengan sentuhan teknologi, mereka tidak mudah dibuat percaya.

Niat baik saja tak cukup. Bahkan gelar dokter hewan yang disandang Suparto pun tidak cukup ampuh untuk membuat mereka langsung percaya. Biasanya mereka ingin melihat bukti lebih dulu. Itu berarti Suparto harus bekerja sendiri dulu sampai hasilnya kelihatan jelas, baru mereka mau percaya.

Tantangan kedua yang paling sulit dihadapai adalah masalah penjualan produk akhir, terutama untuk sapi potong. Menurut Suparto, idealnya harga sapi potong di tingkat peternak adalah sekitar Rp 24.000,- sampai Rp 25.000,-/kg berat badan hidup. Namun, kisaran harga sapi potong lokal ini sering kali anjlok akibat kebijakan instan impor sapi potong dari Australia.

Harga sapi potong asal Australia memang bisa lebih murah karena sistem peternakan di sana sudah lebih modern dan efisien, dengan subsidi dari pemerintah. Tapi kebijakan impor ini secara langsung merugikan peternak lokal. "Sapi impor mungkin hanya akan memberi keuntungan bagi beberapa pengusaha besar. Tapi sapi lokal bisa menjadi penghidupan bagi ribuan peternak di desa-desa, selain bisa menghemat devisa negara," katanya.

Meski harus menghadapi hambatan-hambatan ini, Suparto menegaskan bahwa membangun usaha di desa tetap peluang yang sangat menjanjikan. "Di desa masih banyak peluang yang belum digarap," katanya dengan yakin. Kalau potensi itu bisa digarap dengan baik, warga desa tak perlu bekerja sebagai buruh di kota atau di luar negeri.

Apalagi saat ini pemerintah juga memberi kemudahan permodalan lewat berbagai bentuk kredit lunak atau hibah bersyarat, seperti yang dikelola oleh Suparto. Selain mendapatkan dana SMD, Gunungrejo Makmur juga memperoleh pinjaman lunak Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) sebesar Rp 750 juta.

Dalam pandangannya, mudik untuk membangun desa mestinya menjadi kesadaran di kalangan sarjana asal dusun sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Lulusan perguruan tinggi mestinya sudah punya kemampuan menggali potensi desa. Pilihan usaha di desa juga tak hanya peternakan. Apalagi tahun depan Kementerian Pertanian akan memperluas cakupan usaha SMD tidak hanya ternak tapi juga komoditas yang lain. Jadi, tak ada lagi alasan klise takut berwirausaha karena tidak punya modal.

sumber : http://intisari-online.com/read/suparto-sarjana-pulang-kampung

forum jual beli ponorogo

Halo temen-temen, bapak ibu, mas mbak yang sedang mencari informasi mengenai forum jual beli ponorogo silahkan anda bergabung di grup fb forum jual beli ponorogo 

Sampai jumpa disana ya :)

jual beli ponorogo
forum jual beli ponorogo
jual beli mobil ponorogo
jual beli motor ponorogo
jual beli laptop ponorogo
jual beli kenari ponorogo
jual beli motor bekas ponorogo
jual beli rumah di ponorogo
jual beli mobil bekas ponorogo
jual beli ponorogo
forum jual beli ponorogo
jual beli mobil ponorogo
jual beli motor ponorogo
jual beli laptop ponorogo
jual beli kenari ponorogo
jual beli motor bekas ponorogo
jual beli rumah di ponorogo
jual beli mobil bekas ponorogo
jual beli motor bekas ponorogo
jual beli mobil bekas ponorogo
jual beli rumah di ponorogo
forum jual beli ponorogo
jual beli kenari ponorogo
jual beli laptop ponorogo
jual beli mobil ponorogo
jual beli motor ponorogo
jual beli motor bekas ponorogo
jual beli mobil bekas ponorogo
jual beli rumah di ponorogo
 
© Geazzy Corner All Rights Reserved