Pentingnya Belajar Teori Pemrograman

on Minggu, 30 September 2012

Banyak orang yang berpendapat bahwa pemrograman tidak perlu dipelajari teorinya, cu kup dipraktikkan saja. Kita tinggal baca buku contohcon tohnya, dan memulai dari sana. Atau kita tinggal cari contohnya di Internet. Pendekatan cobacoba (trial and error) ini memang bisa dilakukan, tetapi dia hanya cocok untuk program yang sederhana atau ukurannya kecil.

Untuk program yang kompleks atau berukuran besar, tanpa mengguna kan teori dalam pengembangannya, maka program akan menjadi lambat dan bahkan dapat dianggap tidak da pat digunakan. Untuk membuat apli kasi database dengan data 100 orang (sebuah kelas, misalnya) akan ber beda dengan data 10 juta orang (se buah bank, misalnya).

Ketika kuliah dahulu, saya mendapat tugas untuk membuat sebuah program simulasi rang kaian digital. Tugas tersebut lang sung saya kerjakan dengan memikirkan algoritmanya (dalam bentuk flowchart, karena waktu itu memang flowchart yang paling lazim digunakan). Kemudian saya langsung membuat programnya. Program selesai saya buat, dan berjalan dengan belasan kom ponen (logic gates). Dengan bang ganya, program tersebut saya serah kan kepada dosen. Tak berapa lama kemudian, saya dipanggil dosen yang ber sangkutan. Saya ditanya apakah menggunakan sebuah model tertentu untuk menyelesaikan tu gas saya. Saya jawab tidak.

Kemudian dia menjelaskan bahwa program saya hanya dapat di gunakan untuk rangkaian yang sangat kecil (toy problems), tetapi tidak dapat digunakan untuk ratusan komponen, atau bahkan puluhan ribu komponen (real prob lems). Memang ketika saya coba dengan jumlah komponen yang banyak, program saya tidak kun jung selesai. Dosen saya kemudian bertanya, apakah sudah mengambil kuliah graph theory. Saya katakan belum, dan tidak tahu kenapa harus (sebaiknya) mengambil tersebut. Kemudian dosen saya menjelaskan bahwa tugas saya (membuat simulator) bisa lebih baik, dalam artian bisa digunakan dengan komponen yang lebih banyak, jika kita dapat memodelkan permasalah yang saya hadapi ke persoalan standar (graph). Benar saja, setelah sedikit me ngerti tentang graph theory, maka saya bisa memodelkan masalah yang saya hadapi dengan lebih akurat.

Setelah berbentuk graph, maka saya lebih mudah mencari solusi permasalahan. Sebagai con toh, saya dapat mencari jarak ter jauh dari dua komponen untuk menentukan delay maksimum dari rangkaian saya. Ada berbagai algo ritma yang dapat digunakan untuk melakukan operasi terhadap se buah graph. Hasilnya, program simulator saya dapat digunakan un tuk rangkaian yang lebih kompleks (dengan jumlah komponen yang lebih banyak). Inti yang ingin saya sampaikan pada opini kali ini, membuat sebuah program, khususnya yang skalanya besar, tidak dapat dilakukan dengan cobacoba. Ada ilmu yang harus dipelajari. Hal ini tidak hanya di bidang software, tapi bisa juga untuk teknik yang lain. Belajar teori itu penting. Sekolah itu penting!

Penulis : Budi Rahardjo Infolinux 2011 :)

MENGENAL LIBREOFFICE

OpenOffice.org telah merajai aplikasi perkan toran open source selama sepuluh tahun. Program yang lain seperti KOffice dan GNOME Office masih tertinggal. OpenOffice.org pula yang menjadi terdepan dalam mendukung OpenDocument Format atau ODF sebagai standar terbuka untuk dokumen perkantoran melalui ISO/IEC 26300:2006. Standar ini juga segera diterapkan
di Indonesia menjadi SNI 26300:2010. Lalu, ada apa dengan OpenOffice.org sehingga muncul pesaing kuat yang bernama LibreOffice?
Persaingan antarpengembang software sudah biasa terjadi di dunia TIK, tidak hanya yang berbasis proprietary, tapi juga yang berbasis open source. Kita bisa lihat banyak contoh selain OpenOffice.org dan LibreOffice. Misalnya ada persaingan server e-mail antara Postfix, Qmail, Sendmail, dan lain-lain.
Demikian pula persaingan distro Linux antara Fedora, Mandriva,
openSUSE, Ubuntu, dan lain-lain. Kita dapat mengambil hikmah
bahwa ada efek positif dari persaingan, salah satunya kerja keras
pengembang untuk menjadi yang terbaik. Pengguna akan diun-
tungkan, karena tersedia pilihan sesuai dengan kebutuhannya.
Persaingan LibreOffice melawan OpenOffice.org agak “panas”
karena dilatarbelakangi pembelian perusahaan Sun Microsystems
yang dikenal sebagai pengembang open source melalui Java, Ope-
nOffice.org, OpenSolaris, dan MySQL oleh perusahaan Oracle yang
dikenal sebagai pengembang proprietary. Oracle kemudian meng-
hentikan pengembangan distro Unix open source OpenSolaris, dan
pemimpin Oracle pernah menyarankan kepada pengembang untuk
mengubah bahasa pemrograman OpenOffice.org dari C++ menjadi
JavaFX. Beberapa pengembang inti OpenOffice.org telah keluar
dari tim OpenOffice.org untuk fokus ke pengembangan LibreOffice
di bawah TDF (The Document Foundation).


sumber Infolinux (jan 2011)
Bravo Linux :)
 
© Geazzy Corner All Rights Reserved