Polisi Perancis Hemat 50 Juta Euro Berkat Ubuntu

on Selasa, 13 Oktober 2009

Migrasi korps kepolisian Gendarmerie Perancis ke software Open Source telah memangkas anggaran TI dari instansi penegak hukum ini tidak kurang dari 70 persen. Angka tersebut dilontarkan Lieutenant-Colonel Xavier Guimard pada kesempatan presentasi di pertemuan NOiV di Utrecht, Belanda atas suksesnya beralih dari Windows ke Ubuntu.

Menurut Guimard, porsi penghematan terbesar adalah biaya lisensi yang kini telah menjadi legenda. Sampai dengan tahun 2004, kepolisian Perancis harus membeli sekitar 12.000 sampai dengan 15.000 lisensi baru. Pada tahun 2005 tertinggal hanya 27 lisensi yang harus dibayar. Sejak 2007 kebutuhan untuk pengadaan lisensi sekitar 200. "Setiap permintaan desktop baru, selalu disiapkan komputer dengan Ubuntu tertanam, dan telah menjadi tantangan bagi pengguna untuk migrasi," tutur Guimard. Berdasarkan estimasi yang dibuatnya, Gendarmerie telah melakukan penghematan untuk lisensi Office saja sejak 2004 lebih dari 50 juta Euro (atau sekitar 750 milyar rupiah).

Gendarmen memutuskan pada tahun 2002 untuk beralih dengan menerapkan kebijakan untuk penggunaan Open Standard secara konskuen di bidang TI. Ketika itu, korps kepolisian yang terdiri dari 105.000 anggota, menggunakan sistem TI dengan teknologi terbelakang yang sulit dipelihara dan tidak tersambung dengan instansi terkait.

Di tahun 2004 diputuskan untuk migrasi ke Open Source, dimulai dari divisi pembukuan. "Microsoft yang menawarkan dan meminta agar membeli lisensi baru menegur staf bagian pembukuan yang saat itu baru mencoba OpenOffice," kilah Guimard. Namun ketika pimpinan (General Manager) mengetahui bahwa OpenOffice ternyata bisa digunakan dengan baik untuk kebutuhan mereka dan ternyata ia juga bebas biaya lisensi, kontan diputuskan untuk menanamkannya di semua 90.000 komputer yang ada saat itu" ungkap Guimard lebih lanjut.

Menurut Guimard, Gendarmerie telah menyadari sejak tahun 2002 bahwa OSS dengan standar terbuka, didukung lebih baik ketimbang software proprietari, dimulai dari penggunaan server IMAP yang terpusat kemudian Mozilla Thunderbird. Semua aplikasi yang dibuat dengan akses web bisa digunakan dengan baik menggunakan Firefox.


Pada tahun 2007 barulah diputuskan untuk mengganti Sistem Operasi yang masih tertinggal menggunakan Windows. "Peralihan dari Windows XP ke Vista tidak menjanjikan keuntungan bagi Gendarmerie dan membutuhkan pelatihan untuk pengguna. Peralihan dari XP ke Ubuntu ternyata sangat mudah, dua perbedaan besar adalah ikon dan games. Aplikasi games tidak mendapat prioritas untuk kami," kata Guimard.


Sumber http://www.gudanglinux.info/info/open-source/52-pemerintahan/225-polisi-perancis-hemat-50-juta-euro-berkat-ubuntu.html


Open Source: Pilihan Cerdik Penuhi Target Pemerintah Sampai 2011


Departemen Komunikasi dan Informatika yakin mampu memenuhi target penggunaan 'software legal' sampai dengan 31 Desember 2011 di semua jajaran pemerintah. Guna memenuhi kebutuhan terhadap software pilihan cerdik tersebut, Depkominfo telah menyiapkan materi CD software sumber terbuka berikut dokumentasi untuk disebarluaskan.

Sebagaimana dibeberitakan di harian Bisnis Indonesia terbitan hari ini (2009-07-22), Ditjen Aplikasi Telematika bekerja sama dengan Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Ristek akan mendukung inisiatif instansi pemerintah untuk melakukan migrasi.

Kegiatan Open Source di lingkungan kedua kementrian tersebut bukan hal baru dan sejak dini telah dilakukan berbagai upaya untuk memberdayakan pontesi nasional sekaligus menghemat biaya dan devisa negara. Diawali Program Nasional: "Indonesia, Go Open Source!" (IGOS) yang dicanangkan sejak tahun 2004, berbagai macam kegiatan sosialisasi bersama segenap lapisan masyarakat telah dilakukan secara konsisten baik di lingkungan akademisi, instansi pemerintah, swasta maupun komunitas (A-B-G & community) guna memangkas dampak negatif akibat penangguhan biaya ' Pungli' ketika masyarakat menggunakan perangkat lunak proprietari.

Tersedianya pilihan open source yang memadai adalah sebuah berkah dengan dampak positif ganda, baik instan maupun (terutama) dalam jangka panjang. Bagi perusahan atau instansi pemerintah ia memberikan dampak penghematan tanpa penurunan kinerja, sementara daya saing meningkat akibat penurunan biaya produksi. Bagi masyarakat luas dan akademisi adalah solusi merdeka terhadap belenggu lilitan biaya lisensi dan ketergantungan terhadap pemasok tunggal.

Dibalik dampak samping namun positif yang mengiringi kiat penggunaan solusi open source, adalah keterbukaan sumber pemrograman dan hak untuk melakukan perbaikan terhadap software open source (berlisensi GPL), interoperabiltas platform silang, dan standarisasi dokumen terbuka yang menjamin keselarasan pertukaran dokumen antar pengguna sepanjang masa.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah telah membangun infrastruktur dukungan teknis skala nasional yang terdiri dari POSS dan IGOS Center di seluruh wilayah NKRI. Untuk memberikan gambaran kepada masyarakat, hari ini dan besok diselenggarakan Seminar: Kisah Sukses IGOS yang mengangkat dan merupakan ruang pamer keberhasilan gerakan nasional: "Indonesia, Go Open Source!" di Gedung BPPT Jakarta.

Tekad pemerintah untuk berdaulat telah diekspresikan dengan penerbitan himbauan resmi berupa surat edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No 01/2009 perihal Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software ke seluruh pimpinan instansi Pemerintah tertanggal 30 Maret 2009 lampau.

Saat ini sedang dipersiapkan terselenggaranya IGOS Summit babak ke-3 dan Global Conference on Open Source (GCOS) yang akan dihadiri pakar software open source kelas dunia pada tanggal 26-27 Oktober 2009, didukung penuh oleh Depkominfo bersama kementerian Ristek sebagai tuan rumah dan Asosiasi Open Source Indonesia ( AOSI) sebagai penyelenggara.

Sumber http://www.gudanglinux.info/info/open-source/asosiasi-open-source-indonesia/397-open-source-pilihan-cerdik-penuhi-target-pemerintah-sampai-2011.html


Open Source Harmoniskan Hubungan Pemerintah dan Masyarakat



"Sebuah perkembangan baru dalam hal hubungan antara pemerintah dan warganya. Free Software (F/ OSS) telah meremajakan hubungan sosial negeri ini.", kata Luiz Inácio Lula da Silva, presiden negara terbesar di Amerika Selatan: Brasil, dalam sambutannya membuka International Free Software and Electronic Government (Consegi) ke 2 di ibukota Brasília pada tanggal 26 Augustus lalu.

Lula mengungkapkan bahwa departemen pendidikan di negaranya telah mengawali program terbesar dunia dalam mensosialisasikan dan mendistribusikan Linux di lingkungan pendidikan. Program yang berlangsung empat tahun kedepan itu akan diterapkan di sekitar 70.000 sekolahan atau 93 persen dari sekolahan di Brasil dan melibatkan 800.000 komputer.



"Penting diketahui, bahwa kami tidak sekedar pengguna dari free software, kami juga mengembangkannya dan sharing solusi yang kami buat. Konten pendidikan sebagai pendukung utama program komputerisasi di sekolahan, dapat digunakan dan di modifikasi oleh warga. Demikian pula halnya terhadap aplikasi untuk administrasi publik. Jadi, semua program yang dibuat di Brasil untuk digunakan di pemerintah federal, boleh dipakai oleh masyarakat, swasta maupun pemerintah daerah, bahkan oleh negara luar.", ditegaskan presiden Lula lebih lanjut.

Menurut Lula, Portal software publik di Brasil yang dikelola oleh Badan Perencanaan, Budget dan Management, terdaftar 50.000 pengguna aktif dengan koleksi software aplikasi Open Source yang tersimpan bernilai 50 juta Brazil reais (sekitar 275 miliar rupiah). Aplikasi yang dikembangkan dan disimpan di portal tersebut digunakan oleh 5.560 kantor pemerintah daerah.

Disisi lain kegiatan open source di Brasil telah menjadi daya tarik dunia internasional: "Banyak yang mencari informasi tentang open source software kami kemudian menemukan informasi tentang sepak bola di Brasil."


Sumber http://www.gudanglinux.info/info/open-source/52-pemerintahan/461-open-source-perbaiki-relasi-pemerintah-dan-masyarakat.html


61 Ribu Guru Di Rusia Wajib Belajar Linux

Mengiringi proses migrasi F/ OSS di sektor pendidikan di Rusia, kini 61 ribu pengajar dan 7.500 tutor diwajibkan belajar Sistem Operasi Open Source. Kementrian pendidikan di Rusia, sebagaimana dikutip dari pemberitaan di Internet menyediakan dana sebesar 132 juta rubel atau sekitar 40 miliar rupiah untuk biayai extra yang dibutuhkan agar para guru bisa Linux.


Kursus yang dimulai awal Oktober tahun ini diharapkan sampai akhir tahun telah berhasil membuka wawasan pendidik terhadap open source. Perusahan yang memenangkan lelang melaksanakan kursus Linux awal bulan Oktober 2009 akan menyediakan rencana kerja sekaligus telah melatih 7.500 tutor yang nantinya menjadi instruktur untuk mendidik para guru tentang Linux.

Para pengajar yang akan diberikan pelatihan dikelompokkan tidak lebih dari 20 pengajar dan digembleng paling sedikit selama 72 jam pelajaran. Sampai akhir tahun, setiap peserta harus mengerti dan bisa menggunakan sistem operasi sumber terbuka berikut program aplikasi yang disertakan.

Migrasi di lingkungan pendidikan di Rusia telah dimulai sejak tahun 2007 sebagai tindak lanjut terhadap permasalahan penggunaan Windows yang tidak sah. Setelah berhasil menjalankan proyek pilot di awal tahun 2008, diputuskan untuk beralih dan bermigrasi ke sistem operasi open source yang prosesnya akan dituntaskan akhir tahun 2009. Pendidikan Linux untuk para pengajar ini merupakan tahap terakhir dari proses migrasi ke sistem open source.

Selama tiga tahun berikutnya sekolahan di Rusia diwajibkan menggunakan dan mendalami Linux. Setelah itu diberikan pilihan untuk meneruskan penggunaan Linux atau kembali ke Windows. Dalam hal terakhir pemerintah Rusia tidak memberikan tunjangan dan biaya Pungli harus ditanggung sendiri.

sumber http://www.gudanglinux.info/info/open-source/52-pemerintahan/457-pengajar-di-rusia-wajib-belajar-linux.html


Membuat Menu Transparan

on Sabtu, 10 Oktober 2009


Dahulu saya pernah membahas tentang membuat tampilan window menjadi transparan. Dan saya masih manyisakan sebuah PR yaiut membuat tampilan menu menjadi transpara. Setelah sekian lama oprek alhamdulillah akhirnya nemu juga cara untuk membuat tampilan menu menjadi transparan (seperti contoh diatas). Caranya ternyata sangat mudah. Langsung saja berikut ini adalah langkah-langkahnya :

1.Pastikan simple-ccsm sudah terinstall di komputer anda (kalau belum ketik sudo apt-get install simple-ccsm)
2.Buka System > Preferences > Appereance masuk ke tab visual effects dan pilih normal/extra/custom
3.Buka System > Preferences > CompizConfig Settings Manager
4.Beri Centang pada Opacity, Brigthnes, and Situration
5.Klik pada Opacity, Brigthnes, and Situration > Masuk ke tab opacity > Masuk ke window specific settings > klik new

isikan pada windows : Tooltip | Menu | PopupMenu | DropdownMenu
isikan pada windows scale antara 60-80
Sekarang lihat tampilan menu anda


Wallpaper Hujan Matrix

Pernah menonton film The Matrix? Kalau ya pasti Anda ingat hujan kode ASCII hijau dengan latar belakang hitam. Kalau cuma sebagai screensaver sih biasa, tapi kalau jadi wallpaper? Itu baru keren.
Di Ubuntu kita dapat melakukannya dengan cara yang sangat mudah, yaitu membuat screensaver yang sudah ada menjadi wallpaper. Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Buka System > Preferences > Appereance masuk ke tab visual effects dan pilih None
2. Tekan alt+F2 Ketikkan gconf-editor kemudian tekan enter
3. Masuk ke apps > nautilus > preferences kemudian hilangkan centang pada swow_desktop
4. Buka menu System > Preferences > Startup Aplications > klik Add
Isi name dengan Matrix atau apapun yang Anda inginkan
Isi command dengan /usr/lib/xscreensaver/glmatrix -root
5. Restart

Semoga bermanfaat




 
© Geazzy Corner All Rights Reserved